Saat Teduh

Aku mendengar dalam hidupku yang tak bermimpi…

Semua Mahluk mungil di RAWA PADA hutan yang teduh dan damai.

Terdengar jerit yang lara dari RAWA PADA seutas debu yang terseok

kesakitan dan tertindas oleh angin. Hinggap diatas bunga mungil setanggi

merah muda.

Dikedalaman setitik debu itu ternyata tergolek kehidupan lain dari mahluk

teramat kecil. Disana berdiri sebait dunia yang tak nampak dimata Penulis sang

empunya  Blog RAWA PADA ini. Dunia yang penuh amarah..ya sebuah

ketidakadilan.

Hanya cinta yang menyatukan Tuhan dan Manusia. Keilahian yang supra

sempurna akan menjadi satu dengan keterbatasan manusiawi , jika cinta

menjadi auranya.

Pambudi Nugroho di awal februari 2009

Tags:

3 Comments to “Prologue”

  1. Giarto says:

    Keren banget pak.

  2. kweklina says:

    aura tulisanmu memanggilku untuk kembali membaca setiap apa yang kau tulis.

    tutur kata yang bermakna dalam kesehajaan namun punya kekuatan yang memikat.

    Terus menulis!

  3. zipoer7 says:

    Deburan angin yang kau rekam menjadikan betapa hebatnya Allah mencipta angin mampu menggoncang gedung,… Angin pun mengajakku untuk selalu bertadabur menmbaca risalah-risalah sahabat…
    Terus menulis sahabat dan setiap itu pula aku membaca

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>